Tonjokan Torsi Nissan X-trail Hybrid di Kaki Gunung Ceremai

Destinasi kami selanjutnya adalah Kota Kuningan. Di kota ini keajaiban terjadi.

Kota kedua dalam destinasi kami adalah Kuningan. Kabupaten yang terletak di kaki gunung Ceremai ini, menyimpan pesona wilayah, sejarah, dan kuliner. Pada sektor sejarah. Kuningan diwakili oleh LInggarjati. Desa yang berada di kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini menjadi saksi perundingan antara Indonesia dan Belanda. Berjarak 22,8 km dari kota Cirebon, lokasi perundingan berbentuk sebuah rumah tua, masih dirawat dengan baik.

Rumah ini adalah tempat perundingan Indonesia-Belanda yang menghasilkan kesepakatan antara lain pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia. Setelah Linggarjati,tujuan kami selanjutnya adalah mencicipi kuliner di kota ini, yakni menikmati Hucap, kuliner lezat asal Kuningan.

Hucap adalah istilah lain dari kupat tahu dengan bumbu kecap dan sambal kacang. Sekilas hidangan ini terlihat mirip dengan somay atau bahkan ketoprak. Nah, hucap tahu hanya berisi tahu dan ketupat saja. Bagi Anda yang berwisata ke kuningan, tidak sulit menemukan makanan khas ini. Anda bisa menyambangi Hucap Mirasa yang terletak di Jl. Veteran, Taman Kita Kuningan.

Karena kami menginap di Cirebon untuk mendapatkan sesi foto malam di gedung tua, kami kembali melajukan Nissan X-trail Hybrid ke Cirebon. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Pada jalan menurun dan beberapa tanjakan tak terjal, MID Nissan X-trail Hybrid mencatat angka fantastis yakni 46,4 km per liter. MID bahkan terus mencatat angka fantastis hingga 72 km per liter. Angka ini dicapai karena saat turunan mesin bensin berkapasitas 2,0 liter milik Nissan X-trail Hybrid mati, dan digantikan fungsinya oleh motor listrik.  

Mitos mobil berpenggerak roda depan akan “ngempos” ketika melalui tanjakan, tidak terbukti pada perjalanan ini. Cukup posisikan tuas transmisi di posisi D, maka Nissan Xtrail Hybrid dilengkapi sistem CVT, sanggup mengatasi jalur mendaki tanpa masalah.

Ikan Dewa

Propensi Jawa Barat tak hanya terkenal dengan kulinernya. Salah satu objek wisata alam yang menarik disambangi adalah Ikan Dewa, di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Berlokasi di kaki Gunung Ceremai, Cigugur berjarak 42,7 km dengan jarak tempuh +/- 1-2 jam perjalanan.

Meski berada di kaki gunung, lokasi wisata ini mudah disambangi. Selain aspalnya halus, lalu lintas menuju lokasi pun tidak padat. Sesampai di lokasi, kami harus membayar karcis masuk RP 10.000. Sesuai namanya, wisata ini menyajikan kolam besar berisi ikan langka, yakni Labeobarbus Douronensis (kranca Bodas) atau Ikan Dewa. Menurut mitos, ikan ini adalah prajurit-prajurit Siliwangi yang dikutuk menjadi ikan karena tidak patuh pada kehendak Prabu Siliwangi. Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah ikan di dalam kolam ini. Konon ikan ini tidak pernah mati dan tidak pernah beranak pinak. Artinya, ikan dalam kolam tidak akan bertambah dan berkurang.

Di kolam ini terdapat pula ikan-ikan kecil bernama ikan mangut. Ikan ini dimanfaatkan sebagai pembersih sel kulit mati di kaki Anda. Begitu kaki dicelupkan ke dalam kolam, ikan akan menyerbu kaki Anda. Tak usah panik karena gigitannya tak sakit, bahkan cenderung geli.

Pesona Paseban Tri Panca Tunggal

Paseban Tri Panca Tunggal terletak di Kampung Wage, Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º58’04” LS dan 108º27’24” BT. Meskipun secara arsitektur terlihat cukup baru, namun bagunan Paseban Tri Panca Tuggal dibangun tahun 1840, dan sejak itu menjadi pusat kegiatan keagamaan Jawa-Sunda.

Nama banguan ini mengandung makna yang berhubungan dengan ajaran agama tersebut. Paseban mempunyai makna sebagai  tempat berkumpuldan bersyukur dalam merasakan ketunggalan selaku umat Tuhan. Sedang Tri adalah unsur yang terdiri atas sir, rasa, dan pikir; Panca adalah terdiri atas panca indera; dan Tunggal adalah kemanunggalan selaku manusia dan kemanunggalan antara cipta, ras, dan  yangdiwujudkan dalam tekad, ucap serta lampah.

Tahu Kopeci

Objek selanjutnya adalah tahu kopeci. Keunikan tahu ini ada pada kepadatan dan kegurihannya. INi bisa dicapai dengan pembuatan dan penggunaan air yang jernih. Ininya takaran air dan bibit tahunya harus berimbang. Rata-rata tahu yang diproduksi dan kemudian digoreng seberat 10 kg.  “Mencapai 1.000 tahu per hari,” papar seorang pekerja di tempat penjualan yang kami sambangi.

Peminat penganan ini sangat banyak, maklum saja tahu Kopeci sudah menjadi salah satu makanan khas Kabupaten Kuningan selain tape ketan, sirup Jeniper (Jeruk Nipis Peras) dan penganan ringan khas Jawa Barat seperti opak hingga keripik nangka.

Bagi Anda yang berminat, silakan sambangi Tahu Kopeci, di Jalan Veteran, No 157 Kuningan, Jawa Barat.

comments powered by Disqus

Tonjokan Torsi Nissan X-trail Hybrid di Kaki Gunung Ceremai

notSet

Most Read
Latest News
Ini Titik Posko Peristirahatan Shop & Drive
Posko mudik Shop&Drive akan hadir di sepanjang jalur utara Pulau Jawa.
2 hari lalu    1 picture
Biker Honda Bisa Jajal Motor MotoGP Versi Jalan Raya, Catat Tanggalnya
Honda RC213V-S dapat digeber di lintasan sirkuit Sentul, Jawa Barat pada ...
2 hari lalu    1 picture
New 2017 Ford GT ’66 Heritage Edition, Nuansa Klasik Lebih Gahar!
Ford GT ’66 Heritage Edition didominasi oleh warna hitam gelap baik ...
2 hari lalu    1 picture
Volkswagen Up GTI, Makin Futurustik!
Mobil tersebut mampu mengeluarkan tenaga sebesar 110 hp dan mampu berakselera...
2 hari lalu    1 picture
Bakti Sosial Volkswagen Van Club : Berbagi Suka di Bulan Ramadhan
Komunitas penggemar VW klasik khusus Kombi atau Van ini kembali menggelar ...
2 hari lalu    
Autocar Magazine

Edisi: 204 | Mei, 2017